Working Vista Pointer

Prosedur Pelaksanaan Single Bud Planting (dlm gambar)

PROSEDUR PELAKSANAAN SBP
(dalam Gambar)



ALAT PLONG


·       Motor Merk       : WIPRO                   Diameter mata boor  : 25 – 30 mm
·       Daya                  : 550 Watt                  Panjang mata boor    : 120 – 140 mm
·       Voltage               : 220 Volt                   Kapasitas minimal     : 3000 bud/hari/orang            
·       Ampere              : 2,5 Ampere              Kerja alat /hari/alat   : 7 Jam
·       RPM                  : 1400 – 1600             Bahan mata boor     : St. Steel atau Baja



SELEKSI BIBIT


    
PEMILIHAN BIBIT TEBU :

·      Umur        : 5,5 - 6 bulan;  bila lebih 6 bulan agar bibit dipisahkan  antara bagian pucuk, tengah dan bawah
·      Varietas : unggul, sehat, murni


PERAWATAN BUD



·      Operasional Alat :  Alat dilengkapi dengan Pemanas ,Thermostat ,Thermometer dan Sirkulator; Kalibrasi Suhu dg thermometer standar
-            Volume tangki air                       : 200 ltr
-            Volume air saat operasi              : 100 ltr
-            Berat Bud yang di-treament       : 15 – 20% dari Volume air pemanas
-            Penggantian air                          :  setiap hari
-             Satu hari beroperasi                 :  8 kali (8 batch)     
      
                          
o    Temperatur operasi        : 48 – 520 C
o    Daya mesin                    : 1750 watt
o    Voltage                          : 220 V  
o    tinggi keranjang              : 35 – 40 cm
o    Lama perendaman         : bervariasi 30 – 60 menit
o    Diameter kranjang         : 30 - 35 cm
o    Berat Bud                     : 15 – 20% dari volume air pemanas

o    Perendaman dalam Disinfectan/Fungisida dilakukan setelah dari HWT


PERSEMAIAN 1 (P1)

A. MEDIA
-     Media P- 1       : Pasir 100% atau campuran Pasir (70%) dan Tanah (30%)   
-     Kondisi              : Pasir atau tanah disaring agar menjadi remah
-     Penggunaan media      : Maksimum 5 kali



B. TANAM
-     Cara Tanam : posisi mata diatas, Bud dibenamkan, lalu ditaburi media sampai tidak nampak; jarak antar Bud  2 cm; Kerapatan Bud 600-750/m2

     

o  Ukuran Bedeng P1 :  panjang 10 – 20 m; lebar 1,2 – 1,5 m; tinggi 20 – 30 cm
o  Perlu diberi sungkup untuk menjaga stabilitas kelembaban (sampai 3 hari) guna mendorong perkecambahan

o  Umur saat dipindah       : 10 – 12 hari atau sudah berdaun 3 helai
o  Panen                             : menggunakan alat disosrok dari bawah tanah sehingga akar tidak putus
o  Papan pantau  : menggunakan Board -->  memuat informasi perkembangan dari P0 => P1 => P2

PERSEMAIAN 2 (P2)

MEDIA                                                                                                            
            Media  : Tanah : Pasir : Kompos = 1 : 1 : 1


                      
TANAM DI POTTRAY
-    Ukuran Pottray : diameter 4 cm, tinggi 9 cm, 60 lubang, 720 gram

o    Pengisian           : Potray di isi 1/3 dulu setelah itu bibit diletakkan di dalam pottray selanjutnya baru dipenuhi dengan media sampai potray penuh


POTRAY – diletakkan diatas penyangga (30 – 40 cm) 

                      
o  Posisi Potray          : Diletakkan minimal 30 cm diatas permukaan tanah        
o  Tujuan                    : akar tidak boleh masuk kedalam tanah                                               
o  Umur                      : umur bibit di Potray 2 bulan atau sudah berdaun 7 – 8 helai
-     Pengairan : disiram dengan sprinkler – agar mengabut
-     Menjaga stabilitas kelembaban

POMPA SPRINGKLER
o  Jenis pompa : celup (submerge)  
o  Kedalaman 30 m
o  Kapasitas 20 l/detik

NOZZLE

-     Beberapa model nozzle


TRANSPLANTING BIBIT SBP (P2)  KE LAHAN  
             

o   Bibit didalam Potray sebelum di bawa ke kebun terlebih dulu harus diberi Label identitas, dan diroges                                                 
o   Angkutan : agar efisien,  pottray diletakkan di Rak kemudian  diangkut dengan Pick-up/Truk ke kebun
o   Penanaman bibit SBP TIDAK BOLEH TERLALU DALAM, agar tidak menghambat pertumbuhan anakan
o   Jarak tanam 50 atau 60 cm; PKP 115 – 165 cm  à akan mendorong tumbuhnya anakan yang banyak



Ref : Direksi PTPN XI, Litbang PG Pra
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Tarra dan Gambar Kebun

TARRA DAN GAMBAR KEBUN




TARRA KEBUN


Pengertian tarra kebun adalah selisih.

Ada 2 macam tarra kebun, yaitu : tarra kebun dan tarra teknis.

Sebelum membahas tarra, terlebih dahulu harus diketahui luas persewaan, luas netto dan luas brutto. Pengetian ketiga istilah tersebut sbb :

1.      Luas Persewaan adalah luas lahan yang disewa oleh Pabrik Gula. Dalam hal ini dasar persewaan ada yang memakai pedoman gambar krawangan desa (letter C), ada yang menggunakan pedoman gambar ukuran yang dibuat oleh PG.

2.      Luas Netto adalah luas yang ditanami tebu termasuk got malang, pecahan atau luas yang dihitung dari panjang juring . 

3.      Luas Brutto adalah luas yang meliputi luas netto ditambah got mujur (termasuk jalan control) + got keliling + got sendalan + got kempit dll.

Selanjutnya yang disebut tarra teknis dan tarra kebun adalah sbb :

Tarra kebun (%) = luas sewa – luas brutto x 100 %
                                       Luas sewa

                    (Ha) = luas sewa – luas brutto

Tarra teknis (%) = luas brutto – luas netto x 100 %
                                       Luas brutto
                     (Ha) = luas brutto – luas netto


Dalam pelaksanaan di lapangan besarnya tarra sangat mempengaruhi produksi lahan yang bersangkutan. Adapun yang mempengaruhi besarnya tarra adalah :

1.      Pola bukaan yang kurang tepat (terjadi banyak potongan-potongan pada tepi lahan/ngiris tempe)
2.      Keadaan lahan yang tidak ngumpul, sehingga banyak dipakai untuk got keliling dll
3.      Lahan terasering
4.      Luasan yang tidak beraturan
5.      Banyaknya terjadi selisih antara luas yang disewa dengan luas yang dibuka (selisih letter C dengan luas ukuran PG)

Besarnya tarra yang masih diperkenankan untuk tarra kebun maksimum 2 % dan tarra teknis 4 %, sehingga total tarra 6 %.




  
GAMBAR KEBUN

Gambar kebun adalah gambar yang menyatakan bagaimana bentuk dan berapa luas suatu kebun serta hal-hal lain yang diperlukan dalam kegiatan (missal :  nomor plan, arah letak kebun)

Ada 3 (tiga) macam gambar kebun yaitu :

1.      Gambar Krawangan/gambar pemilikan yaitu gambar  yang menyatakan bentuk serta luas tiap-tiap pemilikan, baik yang dibuat dari krawangan desa maupun gambar plan dari juru ukur Pabrik Gula.

2.      Gambar Sementara/rencana bukaan yaitu gambar yang memperlihatkan pola bukaan yang akan digunakan pada suatu kebun yang memuat rencana got-got dalam kebun, rencana arah dan banyaknya lolosan. Gambar ini dibuat oleh Sinder Kebun sebelum kebun dibuka dan digunakan sebagai pedoman untuk pengebonan biaya garap sampai gambar definitive selesai.

3.      Gambar Definitif/gambar lolosan/gambar jadi adalah gambar kebun yang resmi dan baru dibuat setelah pembukaan kebun selesai dan diteliti oleh Juru Gambar. Dalam gambar definitive tertera hal-hal yang nyata antara lain : banyaknya lolosan, macam dan panjang got, tarra kebun, bulan tanam dan varietas.
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Analisis dan Press Release Perkembangan Musim Kemarau 2013

ANALISIS
PERKEMBANGAN MUSIM KEMARAU 2013
DI INDONESIA
31 Mei 2013

I.      ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER DAN LAUT PADA AKHIR MEI 2013

 Pantauan kondisi lapangan terakhir menunjukkan peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia khususnya Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan oleh :
  1. Terjadi anomali (penyimpangan) suhu permukaan laut (SST) di wilayah perairan Indonesia  antara 1  – 2 o  C  lebih panas dibandingkan  normalnya  sehingga memberikan potensi penguapan yang lebih besar. Akibat anomali suhu muka  laut tersebut, muncul pola tekanan rendah di selatan Jawa menyebabkan peningkatan curah hujan.
  2. Monsun Australia yang direpresentasikan oleh angin timuran lemah, tekanan udara di sebelah barat Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan udara di sekitar Pulau Jawa yang menyebabkan  wilayah Indonesia  bagian barat masih didominasi angin baratan yang membawa uap air dari Samudera Hindia ke Pulau Jawa.
  3. Sampai dengan akhir Mei, kondisi suhu muka laut (SST) di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah pada kisaran normal, sehingga  tidak  ada potensi pengurangan uap air dari wilayah Indonesia.  

II.     ANALISIS DAN PROSPEK MUSIM KEMARAU 2013 DI INDONESIA

Berdasarkan hasil analisis curah hujan hingga akhir Mei, terdapat 42% sudah memasuki musim kemarau dengan sifat hujan diatas normal, meliputi : Pesisir timur NAD, sebagian Lampung bagian barat,tengah dan timur, Sebagian kecil Jawa Barat disekitar Pamanukan, Kandanghaur, Indramayu dan Cirebon, Seluruh DI Yogyakarta, Sebagian besar Jawa Tengah bagian timur kecuali Jepara dan Karanganyar, Sebagian besar Jawa Timur dan Madura kecuali di sekitar G. Willis, Probolinggo dan G. Argopuro, Sebagian besar wilayah provinsi bali, kecuali di sekitar Tabanan, Badung dan Karangasem bagian tengah, Seluruh wilayah provinsi NTB, Sebagian besar wilayah provinsi NTT kecuali disekitar Ruteng, Sebagian kecil Sulawesi Selatan disekitar Gowa.
Daerah yang telah memasuki musim kemarau namun kembali terjadi peningkatan curah hujan pada pertengahan Mei meliputi : Jawa Barat disekitar Pamanukan, Kandanghaur, Seluruh DI. Yogyakarta,  Jawa Tengah bagian timur sekitar Wonogiri, Sukoharjo, Magetan, Surakarta, Boyolali, Salatiga, Purwodadi, Grobogan, Blora, Pati, dan Rembang,  Jawa Timur bagian barat sekitar Pacitan, Tulung Agung, Trenggalek, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Nganjuk, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Lamongan, Gresik, Tuban dan Bojonegoro, Kabupaten Raba, Sebagian besar wilayah provinsi NTT kecuali disekitar Ruteng.
Potensi hujan diatas normal  diprakirakan  masih berlangsung sampai dengan akhir Agustus 2013 di pulau Jawa,  Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara dan sebagian Maluku.


Jakarta,   31 Mei 2013
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Sumber : Fax Direksi & P3GI Pasuruan



PRESS RELEASE PERKEMBANGAN MUSIM KEMARAU 2013 DI INDONESIA 05 Juni 2013



PRESS RELEASE
PERKEMBANGANMUSIM KEMARAU 2013
DI INDONESIA 
01  Juni 2013

        I.       ANALISIS DINAMIKA SIRKULASI ATMOSFER DAN LAUT AKHIR MEI 2013

Pantauan kondisi lapangan terakhir menunjukkan peningkatan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia khususnya Jawa dan Sumatera. Hal ini disebabkan oleh :
1.        Terjadi anomali (penyimpangan) suhu permukaan laut (SST) di wilayah perairan Indonesia antara +0.5  s/d +2.0 o C lebih tinggi dibandingkan normalnya (28.5 – 29.5 o C) sehingga :
    1. memberikan potensi penguapan yang lebih besar
    2. muncul pola tekanan rendah di selatan Jawa (kemampuan menarik massa uap air dari sekitarnya) yang menyebabkan penumpukan massa uap air àpeningkatan curah hujan.
    3. Angin dari timur (yang biasanya kuat pada musim kemarau) melemah karena terhambat angin dari barat/Samudera Hindia yang melintas di atas wilayah Indonesia bagian selatan ekuator sehingga terjadi peningkatan curah hujan di sepanjang pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan dan sebagian Maluku

    II.       ANALISIS MUSIM KEMARAU 2013 DI INDONESIA

Berdasarkan hasil analisis curah hujan hingga akhir Mei, terdapat 142 ZOM dari 342 ZOM atau 8% luas wilayah Indonesia yang sudah memasuki musim kemarau dengan sifat hujan atas normal.
Beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau namun kembali terjadi peningkatan curah hujan pada pertengahan Mei (Tabel 1) meliputi : 
WILAYAH
(PULAU)
DAERAH YANG SUDAH MASUK M. KEMARAU
NAMUN C. HUJAN KEMBALI MENINGKAT
SUMATERA
Sebagian Lampung bagian barat, tengah dan timur
JAWA
Sebagian kecil Jawa Barat disekitar Pamanukan, Kandanghaur, Indramayu dan Cirebon, sebagian besar Jawa Tengah bagian timur, DIY, sebagian besar Jawa Timur dan Madura kecuali di sekitar G. Willis, Probolinggo dan G. Argopuro
BALI
Sebagian besar wilayah provinsi Bali, kecuali disekitar Tabanan, Badung dan Karangasem bagian tengah
NTB
Seluruh wilayah provinsi NTB
NTT
Sebagian besar wilayah provinsi NTT kecuali disekitar Ruteng
SULAWESI
Sebagian kecil Sulawesi Selatan disekitar Gowa


PETA ANALISIS MUSIM KEMARAU 2013
DI 342 ZONA MUSIM (ZOM) WILAYAH INDONESIA
( UPDATE : DASARIAN III MEI 2013 )


(JUNI, JULI DAN AGUSTUS)

Potensi hujan atas normal (hujan lebat) karena berpeluang akan terjadi :

  1. Pusaran angin/penumpukan massa uap air. Wilayah hujan lebat meliputi : Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara dan sebagian Maluku.
  2. Kenaikan suhu muka laut (ref : ECMWF, Juni 2013) memperkuat penguapan dan pembentukan awan berpotensi hujan
Anomali/penyimpangan iklim yang menyebabkan banjir terjadi juga di :
     Norwegia (Kvam dan Lillehammer);    
         


18 dan 19 Mei :

Temperatur udara meningkat 8 oC menjadi 29 oC àsalju mencair à kenaikan muka laut àluapan di beberapa sungai.

     Jerman, Austria, Czech


Terdapat daerah tekanan rendah (pusaran angin/penumpukan massa uap air) à terjadi curah hujan ekstrim diatas normalnya
Badan Meteorologi Austria :

C. Hujan dalam dua hari (1-2 Juni) mendekati C. hujan dua bulan.

 Terjadi anomali (penyimpangan) suhu permukaan laut (SST) di wilayah perairan Indonesia lebih tinggi dibandingkan normalnya 
  1. Angin dari timur yang biasanya dominan pada musim kemarau melemah (dihambat angin dari barat) di atas wilayah Indonesia selatan ekuator sehingga terjadi peningkatan curah hujan di wilayah sebagian Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi bag. selatan dan Maluku bag. Selatan
  2. Terdapat 142 ZOM dari 342 ZOM atau 8% luas wilayah Indonesia yang sudah memasuki musim kemarau dengan sifat hujan diatas normal, namun sebagian besar daerah tersebut kembali mengalami peningkatan curah hujan sejak pertengahan Mei
  3. Potensi hujan diatas normaldiprakirakan masih berlangsung sampai dengan akhir Agustus 2013 di pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Bali, Nusa Tenggara dan sebagian Maluku dengan peluang kejadian hujan lebat selama periode tersebut

Jakarta,   05 Juni2013

                                                   Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika


http://www.staklimkarangploso.info

»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..