Working Vista Pointer

Wilayah Jatim Yg Awal & Akhir Masuk Musim Penghujan


Wilayah Jatim
Yang Paling Awal dan Akhir
Masuk Musim Penghujan



suarasurabaya.net - Memasuki musim penghujan yang diperkirakan akan terjadi sejak pertengahan Oktober, beberapa daerah di Jawa Timur ada yang lebih awal dan paling akhir memasuki musim penghujan.

Taufik Hermawan Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Juanda pada suarasurabaya.net, Sabtu (4/10/2013) mengatakan, perbedaan terjadinya musim penghujan di Jawa Timur tergantung dari topografi atau letak wilayah.

"Tapi perbedaan antara wilayah satu dengan wilayah yang lain khususnya di Jawa Timur tidak berselang lama hitungannya harian," kata dia.




Taufik menjelaskan, wilayah yang paling awal masuk ke musim penghujan yakni Lumajang dan Kepanjen pada pertengahan Oktober antara tanggal 20-30 Oktober.

"Wilayah paling akhir memasuki musim penghujan yakni wilayah Pamekasan, Banyuwangi Timur dan Situbondo pada akhir November," ujar dia.

Sementara untuk Kota Surabaya, tambah dia, musim penghujan akan datang pada pertengahan November yakni antara tanggal 10-20 November 2013.

"Minggu kedua bulan Oktober ini diperkirakan ada yang sudah masuk ke musim pancaroba. Jadi kita imbau masyarakat waspada angin puting beliung," pungkas dia. (dwi/edy)

- Banjir di Surabaya, biasanya terjadi di musim penghujan.



Sumber : Suarasurabaya.net / 05 Oktober 2013, 12:44:57
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Rumusan Diskusi Terbatas - Anomali iklim 2013


RUMUSAN DISKUSI TERBATAS
PUSAT PENELITIAN PERKEBUNAN GULA INDONESIA (P3GI)
SURABAYA, 24 SEPTEMBER 2013
“ANOMALI IKLIM 2013: DAMPAK TERHADAP PENURUNAN
PRODUKSI GULA DAN UPAYA ANTISIPASINYA”


 
Anomali Iklim

Perubahan iklim yang ditandai hujan berkepanjangan terjadi ketika sebagian besar Pabrik Gula (PG) memulai giling pada Juni 2013. Hujan bahkan terus berlanjut hingga pertengahan Agustus, sehingga sangat merugikan petani tebu dan PG. Dalam kedaan normal, memasuki awal giling tebu biasanya hujan sudah reda dan kemarau mulai tiba.

Anomali hujan selama musim giling tebu bukan kali ini saja terjadi. Hal serupa pernah dialami pada 2010. Dampaknya tidak hanya terhadap penurunan produksi gula tahun berjalan, tetapi berlanjut pada tahun berikutnya. Pada 2010 produksi gula sebanyak 2,28 juta ton dan 2011 sekitar 2,26 juta ton. Tebu yang tidak bisa ditebang tepat waktu dan sulit dirawat selama hujan pada tahun berjalan bisa menurunkan hasil gula tahun berikutnya.

Siklus anomali iklim tampaknya makin pendek. Bila sebelumnya musim hujan panjang terjadi 1998 kemudian berulang 2010 atau 12 tahun kemudian, kini pengulangan hanya dalam kurun 3 tahun.

Perubahan iklim di wilayah Indonesia tidak bisa diramalkan secara tepat jauh sebelumnya, karena sirkulasi atmosfer regional yang sangat dinamis dan penuh ketidak pastian. Pada Pebruari 2013, BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) memprediksikan kemarau berjalan normal. Namun akhir Mei prediksi BMKG direvisi dengan perkiraan hujan akan turun hingga Agustus. Minggu lalu BMKG memperkirakan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan lebih maju dibandingkan rata-rata periode 30 tahun terakhir atau kurun 1981-2010.

Informasi diatas membuat petani tebu dan PG sulit melakukan antisipasi dengan baik. Kemarau yang kini mulai berlangsung sebenarnya diharapkan bisa lebih panjang, supaya giling tebu berjalan optimal. Saat ini pun recovery tebu belum mulai tampak. Tebu yang digiling masih terimbas hujan abnormal yang turun sebelumnya. Setidaknya masih perlu beberapa minggu lagi agar rendemen kembali naik dan giling PG berjalan normal.

Dalam rangka memperkirakan kondisi iklim pada sisa musim giling tahun ini, serta antisipasinya agar tidak berdampak besar terhadap penurunan produksi gula tahun depan, pada tanggal 24 September 2013 di Surabaya, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) mengadakan Diskusi Terbatas dengan topik “Anomali Iklim 2013: Dampaknya terhadap Penurunan Produksi Gula dan Antisipasinya”.

Diskusi dihadiri oleh sekitar 40 orang peserta, yang terdiri dari peneliti dan pemerhati gula, ahli iklim pertanian, pejabat pemerintah, serta para praktisi pergulaan.


Dampak Hujan

Kemarau basah- yang ditandai dengan kembalinya hujan turun saat memasuki kemarau hingga Agustus- menimbulkan berbagai persoalan dan menambah beban bagi petani dan PG. Ongkos tebang dan angkut tebu naik, biaya prosesing gula membengkak, sementara gula yang dihasilkan berkurang. Keuntungan petani dan PG pasti turun dan bahkan mengalami kerugian.

Dalam guyuran hujan, penebangan dan pengangkutan tebu relatif sulit dan mahal. Kebun dan jalan yang becek menyulitkan mobilitas angkutan tebu. Sedikitnya dibutuhkan tambahan ongkos Rp 2.000 per kuintal untuk menebang dan mengangkut tebu ke pabrik gula (PG). Belum lagi kemampuan penebang merosot. Bila dalam sehari seorang penebang tebu mampu menebang 1 ton, pada saat hujan paling banyak hanya dua pertiganya.

Jumlah tebu yang bisa digiling PG dibawah kapasitas normal, karena tebu yang bisa ditebang dan diangkut hanya yang berada di pinggir-pinggir jalan. Tebu yang sulit diakses kendaraan pengangkut dibiarkan berdiri menunggu kemarau tiba. Pada kondisi seperti itu, kemasakan, kesegaran dan kebersihan tebu pasti terabaikan. Banyak tebu muda terpaksa harus ditebang guna memenuhi kecukupan giling. Kotoran yang terbawa dalam tebu seperti tanah, daun, pucuk, sogolan, bertambah melampaui batas maksimal 5%. Tebu pun digiling dalam kondisi layu karena baru tergiling lebih dari 36 jam sejak ditebang.

Di sisi lain, PG tidak bisa beroperasi normal. Kekurangan tebu menyebabkan giling tersendat, kadang berhenti berhari-hari. Ampas tebu yang dihasilkan tidak cukup untuk bahan bakar boiler karena kebanyakan tebu berumur muda dan PG beroperasi dbawah kapasitasnya. Suplesi energi dari luar seperti minyak residu, kayu, seresah dan sebagainya, melonjak tajam.

Hujan juga akan menurunkan kadar gula tebu atau rendemen. Proses pembentukan gula di batang tebu terhambat dengan turunnya hujan. Data hingga minggu kedua September menunjukkan rata-rata rendemen lebih rendah 0,5-1 poin dibanding kurun yang sama tahun lalu. Bila tahun lalu rendemen sudah mencapai 7,5%, kini masih sekitar 6,5%. Banyak tebu menjadi “tua” dini dan menuju kematian karena drainase kebun terganggu. Pembungaan semarak dimana-mana. Tebu “tua” dini dan berbunga tak banyak membawa gula, bahkan terus menguras cadangan gula yang ada.

Anomali iklim tahun ini tampaknya bukan hanya menyangkut hujan, tetapi juga suhu. Perbedaan suhu malam dan siang pada kondisi normal umumnya > 8 oC, namun kini di beberapa wilayah hanya sekitar 7-8oC, sehingga proses pembentukan gula tidak optimal dan rendemen cenderung rendah.

Dengan gambaran seperti di atas, pada tahun ini produksi gula nasional diperkirakan turun 10-20% dibanding produksi 2012 atau kira-kira maksimum hanya 2,3 juta ton. Produksi sebanyak itu baru mencukupi 40% kebutuhan gula nasional. Swasembada gula tampaknya hanya sekedar asa dan masih jauh untuk direngkuh.


Derita Terus Melanda

Petani tebu dan PG tak reda dirundung derita. Ketika awal musim giling diiringi hujan berkepanjangan, pada Juni lalu atau memasuki bulan kedua masa giling pemerintah mengumumkan kenaikan BBM. Dampaknya kenaikan biaya di semua lini semakin menjadi-jadi.

Harga gula yang diharapkan jadi penyelamat malah cenderung turun hingga Rp 9.200 per kg. Padahal sebelumnya harga gula diatas Rp 11.000 per kg. Gula rafinasi yang terus banjir ke pasar, ikut menekan harga gula. Permintaan petani tebu menjelang awal giling agar harga pokok produksi (HPP) gula ditetapkan Rp 9.800 per kg tampaknya tidak direspon pemerintah. HPP tahun ini sama dengan tahun lalu, sebesar Rp 8.150 per kg. Lengkap sudah derita petani tebu dan PG. Tahun ini mereka mungkin tak bakal bisa mencicipi manisnya gula tebu.

Derita petani tebu kelihatannya harus dibayar mahal karena biasanya akan diikuti turunnya animo mereka bertanam tebu. Data empiris memperlihatkan turunnya harga gula yang berimbas kepada kerugian petani (baca: penurunan keuntungan), akan diikuti penyusutan area tebu, khususnya di wilayah yang sangat tergantung kepada tebu rakyat seperti Jawa Timur. Pada 2002 ketika harga gula di Jawa Timur turun dari Rp 3.400 menjadi Rp 2.600 per kg, area tebu 2003 menyusut 11 ribu ha. Sebaliknya pada kurun 2003-2008 ketika rata-rata harga gula naik rata-rata 15% per tahun, area tebu bertambah 51 ribu ha. Jawa Timur merupakan penghasil gula terbesar di Indonesia dan hampir sepenuhnya tergatung kepada area tebu petani.

Selain itu, penurunan area akibat harga selalu diikuti dengan penurunan produktivitas tanaman karena petani enggan memelihara tebu dengan baik. Kembali ke contoh Jawa Timur, dengan turunnya harga pada 2002, rata-rata hasil gula per ha merosot dari 5,27 ton menjadi 5,17 ton. Sebaliknya ketika harga gula naik pada kurun 2003-2008, rata-rata hasil gula per ha meningkat dari 5,17 ton pada 2003 menjadi 6,20 ton pada 2008. Produksi gula di provinsi tersebut tumbuh 61% atau bertambah 475 ribu ton.


Antisipasi

Dengan kemungkinan kemarau berlangsung pendek dan musim hujan segera tiba, maka tahun ini petani dan PG harus bersama-sama mengoptimalkan sisa waktu giling. Secara umum perbaikan tanaman untuk sisa giling tahun ini relatif sulit dilakukan karena tanaman tebu sudah besar pada kisaran umur 10-12 bulan. Gula yang ada di tanaman tebu harus bisa diambil sebanyak-banyaknya. Perbaikan manajemen dalam tebang muat angkut tebu dan operasional PG harus menjadi perhatian. Giling PG diupayakan berjalan lancar sesuai dengan kapasitasnya. Keajegan pasok tebu MBS (masak, bersih dan segar) harus dijaga dan kondisi PG harus benar-benar prima. Bila dimungkinkan, penggunaan zat pemacu kemasakan bisa dipergunakan.

Namun yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah perawatan tanaman tebu, baik plant cane maupun ratoon, untuk keperluan bahan baku giling tahun 2014. Anomali iklim tahun 2010 yang berimbas kepada produksi gula tahun 2011, harus dijadikan pelajaran dalam menyiapkan tanaman sehingga dampak hujan berkepanjangan tahun 2013 terhadap penurunan produksi gula 2014 bisa diminimalkan.

Secara teknis, upaya antisipasi menyiapkan tebu giling 2014 tidak bisa digeneralisir, tetapi harus disesuaikan dengan kearifan dan kondisi lokal. Beberapa antisipasi yang merupakan hasil sharing informasi dan pengalaman dari para praktisi mencakup: pengeprasan segera setelah tebang agar tunggul tidak busuk; pengendalian gulma sesegera mungkin sebelum hujan tiba; pemupukan tepat waktu, dosis dan cara; pemberian kompos pada takaran yang memadai; perbaikan sistem patusan (drainase); penataan varietas; penghentian giling saat musim hujan mulai datang dan sebagainya.

Hal penting yang perlu diingat bahwa gula dibentuk di kebun. Kontribusi kualitas tanaman terhadap rendemen sekitar 85%, sementara kontribusi pabrik hanya sekitar 15%. Oleh karena itu, menyiapkan bahan baku berkualitas baik dan membawanya ke pabrik dalam kondisi MBS merupakan tahapan penting dan krusial. PG pun harus bisa mengolah tebu tersebut secara efektif dan efisien.

Perbaikan kualitas tanaman dilakukan dengan menerapkan best management practices di sektor budidaya mulai dari pemilihan benih yang sehat, murni & produktif, ketepatan pemilihan varietas dan masa tanamnya, pengolahan tanah, perawatan tanaman, hingga pengangkutannya ke pabrik.

Bagi PG yang sangat tergantung kepada pasokan tebu rakyat, antisipasi terhadap anomali iklim ini perlu usaha lebih keras. Area tebu yang terpencar pada luasan yang sempit menyebabkan pengelolaan kebun tidak berjalan optimal. Namun pepatah mengatakan “pengalaman adalah guru yang terbaik”. Peristiwa hujan selama giling tebu yang pernah terjadi sebelumnya harus dijadikan pelajaran dalam melakukan antisipasi yang tepat sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

Siklus anomali iklim yang kian pendek, perlu terus diwaspadai. Dalam jangka panjang diperlukan varietas tebu unggul yang mampu menghasilkan gula tinggi pada berbagai kondisi abnormal seperti hujan atau kering berkepanjangan, genangan atau drainase buruk, minim perawatan, solum tanah tipis, kadar garam tinggi dan sebagainya. Data base iklim dengan memuat parameter suhu, curah hujan, kelembaban dan penyinaran matahari, di wilayah perkebunan tebu perlu dibangun, sehingga setiap perubahan iklim yang terjadi dan dampaknya terhadap pertumbuhan tebu bisa segera diketahui.

Perubahan iklim memang sulit diprediksi dengan pasti. Dalam skala luas, iklim juga tak bisa dimanipulasi. Karena itu, bersahabat lebih dekat dengan iklim dan berusaha mengenal gejala dan perilakunya, mungkin bisa menjauhkan kita dari dampak negatif yang ditimbulkannya. Meminjam gejala Vickynisasi yag sedang populer, sepertinya kita perlu melakukan konspirasi kemakmuran dengan iklim supaya terhindar dari labil ekonomi.

Surabaya, 24 September 2013

Aris Toharisman



Referensi : Rumusan Diskusi Terbatas “Anomali Iklim 2013” (P3GI, Sept 2013)

Berita / Link terkait Anomali Iklim :

3.    Anomali cuaca, produksi gula diramal susut 10%-20% (kabarbisnis.com) 


»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Top Ten Rendemen PG per 15 September 2013

TOP TEN PRODUKSI GULA TEBU se-INDONESIA
 
PER 15 SEPTEMBER 2013



»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Dosis Pupuk TS MT 2013/2014 & Bibitan

Dosis Pupuk TS MT 2013/2014 & Bibitan



»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

TOP TEN RENDEMEN & SHS PG BUMN SE INDONESIA


»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Rendemen Tebu Indonesia Kembali Terpuruk


Rendemen Tebu Indonesia Kembali Terpuruk


Bisnis.com, JAKARTA -- Rendemen tebu rata-rata nasional pada Juli 2013 berada di kisaran 7,96% atau turun 2,93% dibanding Mei 2013 sebesar 8,20%. Meskipun demikian, Pemerintah Optimistis target produksi gula 2013 tercapai.

Pada 24-28 September 2012 hasil capaian rendemen harian di PG Ngadirejo mampu mencapai 10%.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan optimistis target produksi gula pada 2013 akan tercapai, meskipun rendemen turun akibat hujan tetap turun pada musim kemarau tahun ini.


"Target masih mungkin tercapai, karena meskipun rendemen turun, ada penambahan areal tanam, nah itu yang akan kita lihat nanti," jelasnya, Rabu (13/8/2013).

Tingginya curah hujan di beberapa sentra penghasil tebu disinyalir menjadi penyebab turunnya rendemen tebu pada Juli 2013.

Direktur Tanaman Semusim Dirjen Perkebunan Kementan Nurnowo Paridjo mengatakan musim kemarau yang cenderung basah pada bulan tersebut telah menghambat proses penyimpanan gula pada tanaman tebu karena tingginya kadar air merangsang tanaman untuk melakukan pertumbuhan secara vegetatif.


"Kami tidak mengkambinghitamkan cuaca, akan tetapi adanya anomali iklim pada Juli membuat rendemen tebu petani turun. akibat tingginya kadar air, tanaman tebu cenderung melakukan pertumbuhan vegetatif sehingga proses pembentukan gula terhambat," katanya.

Nurnowo melanjutkan, adanya curah hujan yang cukup tinggi ini juga berdampak pada turunnya produksi hablur atau gula sukrosa yang dikristalkan. Hablur sendiri mencerminkan rendemen tebu, semakin tinggi rendemen maka semakin besar pula hablur yang dihasilkannya.


"Hablur pada Juli 2013 turun 1,93% menjadi 2,7 juta ton dibanding Mei 2013 yang mencapai 2,76 juta ton," katanya.  

Turunnya produksi ini akibat rendahnya produktifitas hablur, jika pada Mei 2013 produktifitas masih mencapai 6,1 ton per hektarenya, pada Juli 2013 turun 2,46% menjadi 5,95 ton per hektare.

Hal ini, tambah Nurnowo mempengaruhi produksi hablur secara nasional. Pihaknya memperkirakan produksi hablur pada 2013 sebanyak 2,505 juta ton dengan rendemen rata-rata nasional diperkirakan sebesar 7,44%.

Besaran nilai produksi tersebut hanya 98% dari total produksi hablur pada 2012 yang mencapai 2,556 juta ton.


Selain itu, kendala yang terjadi akibat anomali cuaca ini terang Nurnowo adalah mundurnya musim giling tebu. Meskipun demikian Ia optimis musim giling tebu pada 2013 ini akan berjalan sesuai dengan rencana.

"Musim giling tebu diperkirakan mundur 3 hingga 6 minggu atau di pada Agustus dan September ini. Meskipun demikian, target giling 2013 akan tercapai walaupun terjadi penurunan produktifitas," terangnya.

Sementara itu, mengenai program bongkar ratoon lahan tebu seluas 50.000 hektare yang direncanakan selesai 2013 ini, hingga Juli 2013 masih terus berjalan.

Rencananya, pelaksanaan bongkar ratoon ini akan dibagi kedalam dua tahap atau pola, yaitu pola pertama akan dilaksanakan pada Mei 2013 - September 2013 untuk lahan seluas 15.000 hektare.

Kemudian disusul pola kedua pada lahan 35.000 hektare yang direncanakan dilaksanakan pada Oktober - Desember 2013. ( M. Taufiqur Rahman)


 Editor : Martin Sihombing

Sumber : http://www.bisnis.com/m/rendemen-tebu-indonesia-kembali-terpuruk
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..