Working Vista Pointer

Hasil Percobaan Tahun 2010
















»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Pengumuman Libur dan Cuti Bersama Idul Fitri 1432H


 
PENGUMUMAN
Nomor : AA-PENGU/11.015

PELAKSANAAN LIBUR DAN CUTI BERSAMA HARI RAYA IDUL FITRI 1432 H

Mengingat Hari Raya Idul Fitri 1432 H, dengan ini kami sampaikan bahwa Pabrik Gula Pradjekan akan melaksanakan libur dan cuti bersama Hari Raya Idul Fitri 2011 sebagai berikut :

Tanggal
Keterangan

29 Agustus 2011
30 & 31 Agustus 2011
01 s/d 03 September 2011
05 September 2011
06 September 2011


Cuti Bersama
Hari Libur Resmi Nasional
Cuti Bersama
Masuk Kerja
Mulai Giling Kembali

Dalam pelaksanaan libur dan cuti bersama pada tanggal tersebut di atas :
  • Kantor tutup, tidak melayani pengeluaran DO gula dan tetes.
  • Pelayanan DO terakhir tgl. 27 Agustus 2011-08-25 Masuk kerja kembali pada tanggal 05 September 2011, diikuti acara Halal Bihalal bertempat di Besaran PG. Pradjekan pada pukul : 08.30 WIB

Bagi karyawan/karyawati baik bulanan tetap maupun musiman yang terkait dengan pelaksanaan giling dibutuhkan tetap masuk bekerja, maka pengaturannya diserahkan kepada Kepala Bagian masing-masing (guna membuat jadwal piket)

 





»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

KAJIAN TENTANG SIPRAMIN ( ED. AGS'11 )



   SIPRAMIN singkatan dari SISA PROSES ASAM AMINO.

      SIPRAMIN adalah sisa fermentasi asam amino (glutamate dan L- lysine) merupakan bahan organik cair yang berasal dari hasil samping pembuatan penyedap masakan (monosodium glutamate atau MSG), dari bahan baku tetes tebu. SIPRAMIN dapat digunakan sebagai salah satu pupuk karena mengandung unsur hara makro N, P, K, Ca, Mg dan beberapa unsur mikro seperti Cu, dan Zn selain unsur lainnya. (Mulyadi dan Lestari, 1993; Tim Ahli Bimas Jawa Timur, 1995). Selain itu, SIPRAMIN mengandung bahan organik cukup tinggi (8,1 12,7%) sehingga dapat dimanfaatkan untuk menambah bahan organik tanah (Sofyan et al.,1997).
 
Unsur hara dalam SIPRAMIN yang paling penting adalah Nitrogen. Karena unsur ini sangat diperlukan tanaman. SIPRAMIN mengandung Nitrogen cukup tinggi yaitu berkisar antara 4,92–6,12% (Soeparmono et al., 1998) sampai 5,04–6,92 (Arifin et al., 1998). Dalam proses pembuatan SIPRAMIN, sisa pengolahan proses fermentasi dinetralkan sampai pH 6-7, diperkaya dengan unsur nitrogen (N), dan dipasarkan sebagai pupuk cair.

STANDARISASI SIPRAMIN DALAM SNI 02.4958.2006  

Syarat mutu :  

Pengemasan :
Produk dikemas dalam wadah yang tertutup rapat, tidak   dipengaruhi dan mempengaruhi isi, aman selama   penyimpanan dan pengangkutan.

     Penelitian pemupukan SIPRAMIN dalam budi daya tebu telah dilakukan di Pasuruan, Kediri, dan Jember (Premono et al., 2001). Pada penelitian tersebut telah dicoba pengaruh takaran empat macam SIPRAMIN dari baku (3.500 Ltr per Ha) sampai berlebihan (32.000 Ltr per Ha) terhadap bobot tebu dan potensi rendemen pada plant cane (PC), keprasan 1 (R1), keprasan 2 (R2) dan keprasan 3 (R3) pada percobaan di Pasuruan (Inceptisols), Kediri (Entisols) dan Jember (Inceptisols) menemukan bahwa di Pasuruan, pada perlakuan 28.000-32.000 Ltr per Ha terjadi penurunan bobot tebu keprasan 2 dan keprasan 3. Peningkatan tebu akibat takaran SIPRAMIN diikuti pula dengan persen kerobohan yang tinggi, yang pada akhirnya memacu pertumbuhan sogolan.

  Upaya menghitung potensi rendemen dihitung dengan cara perkalian nilai nira NPP (nilai perahan  pertama) dengan faktor rendemen. Pada perlakuan SIPRAMIN berlebihan, potensi kehilangan rendemen mencapai 24-42%. Perbedaan yang cukup besar dari nilai potensi rendemen terhadap rendemen nyata pada perlakuan SIPRAMIN berlebihan dapat disebabkan oleh kualitas nira yang kurang baik, yakni dengan adanya unsurunsur bukan sukrosa seperti gula reduksi dan amilum, yang akan mempengaruhi dalam pengolahan di pabrik.
PENGARUH SIPRAMIN TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH

Pemberian SIPRAMIN secara terus-menerus (enam kali pertanaman) pada takaran 2.500–5.000 Ltr per Ha dapat menurunkan pH tanah antara 0,2-0,4 poin dibanding dengan kontrol.
 Pemberian SIPRAMIN secara berlebihan juga menyebabkan berkurangnya Ca2+ dan Mg2+ tanah. Penurunan ini sejalan dengan penurunan pH tanah, terutama terjadi pada pemberian SIPRAMIN 2-8 kali takaran baku. Pemberian SIPRAMIN secara terus-menerus selama 4 tahun tidak menyebabkan akumulasi Na+ dalam tanah. Hal tersebut diduga sebagian natrium diserap oleh tanaman karena merupakan unsur hara mikro.
 
PENGARUH SIPRAMIN TERHADAP SIFAT FISIKA TANAH

        Hati-hati menggunakan pupuk cair hasil SIPRAMIN (sisa proses asam amino), karena efeknya menyebabkan struktur tanah pertanian menjadi kritis. Ir Suyono MS, pakar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jember, melakukan penelitian secara intensif di tiga kabupaten eks Karesidenan Besuki. Yakni tanah di sekitar PG Semboro, Jatiroto-Lumajang, dan Glenmore-Banyuwangi.
      Khusus daerah Jember, penelitian dilakukan di Kecamatan Sumberbaru, Bangsalsari, Rowotengah, Gumukmas, Rambipuji, Tempurejo dan Ledokombo. Hasilnya, rata-rata tanah itu mengandung Natrium (Na) lima kali lebih besar daripada tanah yang tidak diberi pupuk cair.
Pupuk cair dari sipramin merusak struktur tanah”
begitu kesimpulan Ir Suyono.

PENGARUH SIPRAMIN TERHADAP SIFAT BIOLOGI TANAH

  Premono et al (2001) menjelaskan bahwa pada tahun pertama pemberian SIPRAMIN 4-8 kali takaran baku menyebabkan populasi mikroba mengalami penurunan, hal ini diduga awalnya terjadi peledakan populasi mikroba dalam tanah yang menyebabkan kompetisi ruang dan nutrisi sehingga pada akhirnya menurunkan populasi mikroba.
 
  Selain fenomena kompetisi, penurunan populasi ini dapat disebabkan oleh terjadi akumulasi cairan yang bisa menimbulkan plasmolisis dan munculnya senyawa organik karena dekomposisi secara anaerobik terutama pada tanah bertekstur halus.


Pengaruh Pemupukan SIPRAMIN selama 3 Musim Terhadap Tanaman Pangan & Dampaknya Terhadap Sifat KimiaTanah (Sofyan A.; Sri Adiningsih, J.; Abdurachman, A.)
Penelitian :
Menggunakan Sipramin, urea dan urea + ZA pada dosis 2500. Sampai 5000L/ha dibarengi dengan pemupukan P dan K.
Hasil :
Produksimenunjukkan angka yang sama antara perlakuan sipramin urea atau Urea + ZA pada dosis N yang sama.
Dampak :
Pemberian Sipramin, urea atau urea + ZA setelah 3 musim tanam cenderung menurunkan pH.


Efisiensi Penggunaan Nitrogen Tanaman Tebu Keprasan yang Disiram Sipramin (Rusprasit Y./UNMER, M. Edi Premono/ P3GI, Syekhfani dan Lily Agustina/Unibraw)
 
Penelitian :
  Mempelajari status dan efisiensi penggunaan nitrogen pada sipramin sekaligus mempelajari pengaruh dua macam sipramin terhadap pertumbuhan tebu keprasan ketiga dibanding pemupukan dengan amonium sulfat.
Hasil :
Pada umur enam bulan setelah kepras tidak terdapat perbedaan pertumbuhan antara tanaman tebu yang dipupuk Bagitani maupun Orgami. Tidak terdapat perbedaan rendemen antara tebu yang dipupuk Sipramin atau amonium sulfat, tetapi rendemen terendah sebesar 4,76 % terdapat pada pemupukan dengan Sipramin dosis tinggi. Peningkatan dosis Sipramin melebihi dosis normal tidak nyata meningkatkan kristal gula.
Dampak :
Efisiensi penggunaan nitrogen semakin berkurang dengan semakin tingginya dosis pemupukan Sipramin


- Meskipun memiliki kandungan C-organik dan N-total cukup tinggi, penggunaan SIPRAMIN menimbulkan pro kontra karena selain sebagai sumber hara, SIPRAMIN juga berpotensi merusak tanah.
- Pemupukan selama 10 musim tanam terus-menerus pada tanaman pangan menyebabkan pH (keasaman tanah) turun 0,3-0,4 unit pH (Suara Merdeka, 2003).
- Dampak negatif lain yang merugikan seperti terjadinya peristiwa kompaksi tanah dan dispersi liat pada kondisi tanah jenuh akan muncul apabila SIPRAMIN digunakan secara berlebihan (Dinas Perkebunan Jawa Timur, 2008a).
- Pengalaman juga menunjukkan penggunaan SIPRAMIN mengakibatkan berat tebu susut 30 persen pada 12 jam setelah tebang. Susut rendemen 40-50 persen dan akhirnya susut hablur 40-45 persen (Kompas, 2005).
SIPRAMIN VS NON  SIPRAMIN


DAFTAR PUSTAKA
Dinas Perkebunan Jawa Timur, 2008
Harian Kompas, 2005
Harian Suara Merdeka, 2003
Hasil Minggu Pagi Online, Saturday, 25 October 2003 14:19
Hasil Penelitian Ea Kosman Anwar dan Husein Suganda tentang Pupuk Limbah Industri
Hasil Penelitian Rusprasita, UNMER, M. Edi Premono P3GI dan Lily Agustina UNIBRAW
Hasil Penelitian Sofyan, Sri Adiningsih dan Abu Rahmat tentang sipramin
 


 
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

PROSESI PETIK TEBU MANTEN PG PRADJEKAN 2011

Smoga jadi manten beneran...
 

 












»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

GERAKAN TEBANGAN BERSIH



Penurunan berat tebu akibat penggabusan (voos) pada tanaman tebu merupakan fenomena agronomik yang terjadi setelah hujan berkepanjangan.  Namun demikian dengan kegiatan yang tersisa berupa manajemen tebang-angkut, persoalan kemungkinan turunnya produksi yang terlalu ekstrim diharapkan tidak terjadi.  Kegiatan tebangan bersih yang menunjang keberhasilan teknologi pascapanen merupakan salah satu kunci dalam perolehan hasil lebih baik.  Perolehan gula milik PG baik yang berasal dari 100% tebu sendiri maupun eks 34% bagi hasil dengan petani tebu rakyat terus didorong, antara lain melalui ketersediaan tebu rakyat mandiri yang selama ini tidak mempunyai ikatan avalist dengan PG.

Kesepakatan tentang tebangan bersih telah disampaikan manajemen beberapa waktu lalu.  Hasilnya dapat dilihat dari perolehan rendemen yang lebih baik, setidaknya pada tebu sendiri.

Unit Tanaman PG Pradjekan berusaha untuk mensosialisasikan mengenai pengiriman tebu bersih, salah satunya dengan membuat banner tebu tebang bersih. 




------------------------------------------------------------------------------------------------------------
»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..

Petunjuk Pemupukan TS dan Bibitan 11-12 (ED. Ags '11)

KEMASAMAN TANAH
            Kemasaman tanah penting sebagai indikator kesuburan tanah. Tingkat kemasaman tanah memiliki hubungan dengan ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman,  misalnya ketersediaan unsur hara P dan hara mikro dikontrol oleh pH tanah serta ketersediaan unsur yang bersifat racun.
 
Untuk pH (H2O)
# SM        : Sangat Masam             (3,0 – 4,5)
# M          : Masam                        (4,6 – 5,5)
# AM        : Agak Masam              (5,6 – 6,5)
# N          : Netral                        (6,6 – 7,5)
# AB        : Agak Basas                 (7,6 – 8,5)
# SB        : Sangat Basas              (8,6 – 10,0)
         
                 Nitrogen (N) merupakan salah satu hara yang dibutuhkan tanaman tebu untuk memacu pertumbuhan vegetatif tanaman seperti daun, batang, akar penentu biomasa tanaman. Jumlah N yang dibutuhkan tidak boleh lebih kecil  atau lebih besar dari kebutuhan. Bila kekurangan N, tanaman tebu akan kerdil dan jika kelebihan akan menyebabkan penurunan rendemen yang signifikan.
Untuk Nitrogen 
# ST        : Sangat Tinggi             (   > 0,15    )
# T          : Tinggi                        (0,13 – 0,15)
# S          : Sedang                       (0,10 – 0,13)
# R          : Rendah                      (0,07 – 0,10)
# SR        : Sangat Rendah           (   < 0,07    )

Posfor (P) merupakan hara yang diperlukan dalam inisiasi sel dan transfer energi sehingga harus tersedia sejak awal fase pertumbuhan tanaman. Tebu yang mengalami kekurangan P akan memiliki produktifitas tebu, rendemen dan hasil gula yang rendah.
Untuk P2O5
# ST        : Sangat Tinggi             (  > 70  )
# T          : Tinggi                        (50 – 70)
# S          : Sedang                       (30 – 50)
# R          : Rendah                      (15 – 30)
# SR        : Sangat Rendah           (  < 15  )
            Kalium (K) merupakan unsur hara yag diserap tanaman untuk membantu proses fotosintesis dan translokasi hasil karbohidrat. Peranan K adalah untuk memperkokoh batang menjadi tidak mudah roboh.
Untuk K2O
# ST        : Sangat Tinggi             (   > 300   )
# T          : Tinggi                        (200 – 300)
# S          : Sedang                       (100 – 200)
# R          : Rendah                      (40   – 100)
# SR        : Sangat Rendah           (    < 40    )






Kapasitas tukar Kation (KTK) menunjukkan kemampuan tanah mengikat dan menukarkan antara unsur kation. KTK tanah mengontrol ketersediaan beberapa unsur hara dan berperan dalam efisiensi pemupukan. Pemberian bahan organik berpotensi meningkatkan KTK tanah.
Untuk KTK
# ST        : Sangat Tinggi             (  > 40  )
# T          : Tinggi                        (25 – 40)
# S          : Sedang                       (15 – 25)
# R          : Rendah                      ( 5  – 15)
# SR        : Sangat Rendah           (  0 – 5  )

HUMUS / BAHAN ORGANIK
 

DOSIS TS MT 2011 – 2012 :

       I.      Phonska 4 kui + ZA 5 kui + 30 kui Kompos
     II.      Phonska 4 kui + Urea 3 kui + 30 kui Kompos
   III.      Halei 5 kui + ZA 3 kui + 30 kui Kompos
   IV.      Halei 5 kui + Urea 2 kui + 30 kui Kompos

BIBITAN :

      Urea 4 kui + SP-36 1 kui+30 kui Kompos
          
 ERGON SUPER

Takaran                       : 5 Liter / Ha
Pengenceran               : 17 ml/liter
Waktu Aplikasi            : Diberikan 1 kali pada umur    tanaman 2,5 – 4 bulan

      Penyemprotan pagi pukul 07.00 – 10.00. Atau sore pukul 15.00 – 16.00
      Hindari penyemprotan pada saat angin kencang dan panas terik
      Pada musim hujan usahakan penyemprotan terakhir 3 jam sebelum hujan

Formulasi Ergon Super

Macro :    N                  : 6,06 %          
                P2O5                 : 3,27 %
                K2O              : 5,08 %

Micro :   Mn  : 0,37 %     Asam Amino  : +
Fe  : 0,01 %    Zpt                 : +
B    : 0,13 %   Microbiocide   : +
      Cu  : 0,02 %   Repelen          : +
      Zn  : 0,11 %   Surfactant       : +
      Mo  : 0,01 %   Bagan Dasar    : Pro Analis

»»  Baca Selengkapnya (Readmore)..